Perubahan sosial budaya dunia yang maha dahsyat dewasa ini mengantar proses penyesuaian kehidupan yang luar biasa. Dalam bidang politik, di segala penjuru dunia terjadi proses demokratisasi yang dahsyat. Dalam kehidupan ekonomi muncul gejala yang tidak pernah terjadi sebelumnya dimana negara-negara super power mendadak mengalami stagnasi ekonomi yang mengerikan. Dalam kehidupan sederhana di pedesaan banyak keluarga desa mengalami gejolak dan transisi antar generasi yang membingungkan. Dalam konteks Hari Kartini yang diperingati hari ini ada gunanya kita merenung melihat suatu proses transisi budaya kecil di pinggiran desa Jirak di Kabupaten Gunungkidul yang menarik.
Di warung makan “Sego Abang†yang sederhana tetapi laris manis itu, yang letaknya di samping Jembatan Jirak, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, pada suatu hari penuh sesak oleh tamu dari segala penjuru termasuk dua keluarga yang dari mobilnya dapat dikenali berasal dari Jakarta dan Semarang. Satu keluarga memilih tempat duduk lesehan dan satunya mengambil meja makan sederhana yang dilengkapi kursi ala kadarnya. Kedua keluarga itu bercanda asyik seakan perjalanan pulang kampungnya sudah lama dirindukan. Kedua keluarga itu masing-masing mempunyai anak-anak laki-laki perempuan tanggung yang berdandan dengan gaya anak muda kota yang sama sekali tidak lagi kentara asal desanya. Tangannya dihiasi jam besar, bajunya serasi dengan celana jean yang dikenakannya tanpa tampak norak. Tidak terlihat sedikitpun ciri anak desa yang kikuk melihat suasana hingar bingar restoran yang sedang penuh sesak. Secara trengginas mereka duduk dan menyesuaikan diri.
Dari pembicaraan kedua orang tua yang asyik memesan makanan kentara sekali bahwa mereka sudah sangat dirindukan makanan lokal kecintaannya. Hampir semua anggota keluarga yang ceria rindu makanan kampung ikut nimbrung memesan makanan favoritnya. Sebaliknya anak-anak muda, begitu melihat menu sederhana satu halaman yang disodorkan, langsung membuang muka, cemberut tidak happy. Beberapa anggota lainnya menghibur dan mencoba membuat mereka ceria. Pada waktu makanan datang, secara spontan para sesepuh menyerbu makanan khas pedesaan dengan lahab sambil cekikikan melepas rindu. Malang bagi anak-anak muda kedua keluarga itu. Tangan-tangan mereka mempermainkan makanan yang disajikan orang tua di piringnya. Mereka tidak ada napsu mengambilnya. Bujukan ibu, bapak dan saudaranya tidak mempan karena mereka merasa tidak nyaman dengan makanan yang tersaji. Mereka tidak bisa menerima makanan kesayangan kedua orang tuanya. Rupanya ada kesenjangan generasi.
Anak-anak itu, terutama anak perempuan, bertanya kepada orang tuanya, apakah tidak ada restoran lain yang menyajikan “makanan biasa†seperti di Jakarta atau di Semarang. Kedua orang tuanya justru menyatakan bahwa makanan yang sedang dimakan itu jauh lebih enak dan nikmat dibandingkan makanan di kota. Jawaban itu tidak memuaskan dan tetap saja membuat anak-anak muda yang dipaksa makan mengambil makanan sekedarnya untuk memuaskan orang tuanya. Dalam keadaan marah seperti itu anak-anak muda kedua keluarga itu menunjukkan sikap yang hampir sama ketika kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan. Anak-anak muda keluarga dari Semarang menutup pintu mobilnya dengan kasar dan keras seakan melampiaskan ketidak puasannya kepada orang tuanya. Pada keluarga yang berasal dari Jakarta langsung saja anak perempuannya mengambil posisi di kursi kemudi dan berkata kepada ayahnya biar dia saja yang mengemudi. Orang tua yang melihat gelagat anaknya yang ingin melepas kemarahanannya tidak rela dan meminta dengan rayuan agar jangan mengemudi dalam keadaan marah, pasti di kota nanti ada restoran yang memuaskan. Dari makanan dan tingkah laku saja ada transisi budaya yang sedang bergolak. Kalau Ibu Kartini masih hidup pasti akan ikut prihatin melihat gejala seperti ini.
(Prof Dr Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com)
Add comment