Oleh: Ade Wahyudin*Ekonom kawakan asal Amerika Serikat Sol Palha menjadi pembicara dalam sejumlah seminar di beberapa universitas di Indonesia (10-21/10/2011). Seminar Ekonomi yang mengusung tema “A Worldwide Look of the Macro Economic Situation of The World” ini telah berhasil menyita perhatian audien di 8 (delapan) Universitas di Indonesia. Di hari pertama (10/10/2011), seminar Sol Palha dimulai di kampus Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Terlihat begitu antusias audien yang terdiri dari mahasiswa dan dosen ini dalam mengikuti jalannya seminar. Begitu pula dengan seminar yang dilaksanakan di hari berikutnya yaitu UNDIP (11/10/2011). Seminar ekonomi yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dan UNDIP ini memfokuskan pada permasalahan ekonomi global, khususnya Indonesia dalam menghadapi pasar global.
Seminar ekonomi Sol Palha ini tak berhenti begitu saja, disusul berikutnya oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dilaksanakan di Gedung Fakultas Ekonomi, dan Gedung Pasca Sarjana UIN (16/10/2011). Kajian menarik dalam seminar yang dihadiri oleh berbagai akademisi ini adalah tentang solusi yang ditawarkan Sol Palha mengenai Uang Emas (Dinar). Ia mensinyalir, bahwasanya akar permasalahan pada krisis yang melanda Amerika dan berbagai belahan dunia lainnya adalah krisis mata uang (currency crisis) yang tidak stabil dan fluktuatif. Karena itu, penggunaan emas sebagai hard money management, merupakan solusi final karena emas dinilai lebih stabil dan tidak berubah. Namun permasalahan selanjutnya adalah bagaimana peran tokoh intelektual islam dalam mengenalkan konsep-konsep ekonomi syari’ah kepada masyarakat umum dan dunia, terutama barat.
Karena berbagai peristiwa buruk seperti ekstrimisme, anarkisme, dan radikalisme yang dicoreng segelintir oknum berkedok muslim, telah melahirkan stigma negatif terhadap nilai-nilai islam. Sol Palha juga memuji atas peran Fethullah Gulen yang menjembatani berbagai dialog lintas agama dan budaya yang sudah dilakukan di Amerika juga di seluruh dunia. Fethullah Gulen yang menyebarkan ide-idenya melalui pena (pendidikan) yang telah tersebar saat ini di lebih dari 140 negara telah membuatnya sangat terkesan dan bangga, melihat sosok intelektual muslim yang menyebarkan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, sehingga masyarakat barat (non muslim) dapat hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat muslim. Di Amerika Serikat sendiri, Fethullah Gulen memang sosok yang sangat dikagumi oleh semua orang, hingga sebuah majalah paling bergengsi di Amerika, Foreign Policy Magazine menempatkannya dalam urutan nomor satu sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia.
Lain halnya dengan seminar yang dilaksanakan di hari berikutnya yaitu UNSYIAH Aceh (14/10/2011), Universitas yang memiliki visi menjadi salah satu universitas paling terkemuka di Asia Tenggara dalam pengembangan IPTEK ini menyelenggarakan seminar di Auditorium Gedung Fakultas Ekonomi, begitu pula dengan seminar ekonomi yang diselenggarakan di kampus UI yang sama-sama dilaksanakan di Auditorium Gedung Fakultas Ekonomi (17/10/2011), seminar Sol Palha mendapatkan pujian dari beberapa audien yang turut serta dalam seminar tersebut, sebagai seorang ekonom yang sangat digandrungi karena kepekaan dan analisisnya yang tajam seputar ramalan ekonomi saat ini, Sol Palha yang berpenampilan sangat sederhana dan bersahaja ini mampu menyihir ratusan audien yang memadati jalannya seminar yang membahas persoalan pelik situasi ekonomi dunia saat ini.
Tak kalah menariknya, dihari berikutnya aura Sol Palha juga hadir menyelimuti kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (18/10/2011), Mercubuana (20/10/2011) dan Gedung Library Center Universitas Negeri Jakarta (21/10/2011), kali berikutnya tersebut Sol Palha memberikan pesan-pesan yang sangat tajam dalam memberikan solusi permasalahan-permasalahan di sekitar kawasan teluk (Timur-tengah), Meski sebagai seorang non muslim, Sol Palha yang juga merupakan peraih 3 doktor honouris causa dalam 3 disiplin ilmu yang berbeda yaitu Ekonomi, Psikologi, dan Sosiologi dan juga merupakan seorang konsultan di “Bears Sterns”, sebuah perusahaan keuangan terkemuka di kota New York dan di beberapa perusahaan terkemuka lainnya menilai, bahwasanya solusi terbaik kebangkitan ekonomi umat islam saat ini adalah dengan mengembalikan segala sesuatu pada fitrahnya (Islam).
Penggunaan kembali Mata Uang Dinar misalnya adalah solusi terbaik saat ini, ditengah carut marutnya ekonomi dunia atas penggunaan mata uang, kian hari harga emas justru semakin melambung tinggi, selain itu Perdagangan Global yang sesuai dengan ide-ide Islam yang sejak dahulu kala telah dipelopori oleh Muhammad SAW, serta restrukturisasi nilai-nilai holistik islam selayaknya mampu mengembalikan umat muslim kembali pada kejayaannya, Islam yang moderat yang mampu berdampingan selaras dengan arus modernisasi, sebagaimana pesan-pesan yang disampaikan Fethullah Gulen dalam setiap ceramah dan dialognya.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan jumlah populasi muslim terbanyak di dunia, seharusnya mampu menerapkan gagasan-gagasan ini dalam konteks tatanan perekonomian yang lebih merata dan dinamis. Meski Sol Palha berbicara dalam tatanan ekonomi global, ternyata sedikitnya ia juga telah memberi kita sebuah sengatan terapi yang sangat bermanfaat bagi kemajuan ekonomi islam selanjutnya khususnya di Indonesia, ekonomi islam yang tidak hanya mengenang memori kejayaan masa lalu, namun dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata dengan tetap berpegang teguh pada fitrahnya. Ia juga menghimbau, jika semua masyarakat dunia mampu mengikuti ide-ide dan gagasan Fethullah Gulen, yang menyebarkan nilai-nilai universal islam secara damai dan selaras, ia menjamin kemungkinan besar ekonomi dunia islam akan semakin kuat dan berjaya.
(Penulis adalah staf ahli Fethullah Gulen Chair UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)