Saturday, May 19, 2012

(Jakarta, MADINA): Penampilan, gaya, dan karakter kepemimpinan seseorang berbagai macam. Penampilan Ir Soekarno saat berpidato gayanya berapi-api, memukau, dan bermakna. Dr H Mohammad Hatta, jika berpidato gayanya kalem dan lembut. Prof Dr BJ Habibie gaya bicaranya cepat, tegas, dan punya arti cepat dimengerti.

Mantan Wakil PM Malaysia/mantan Menteri Keuangangan Dr H Anwar Ibrahim mengatakan hal itu  dalam pidatonya yang bertemakan “Kepemimpinan dalam dinamika perubahan ekekonomi  politik”, di Teater Kecil TIM (Taman Ismail Marzuki) Menteng Jakarta Pusat. Hadir, memberi apresiasi, dan menemani Anwar Ibrahim, yakni H Adi Sasono, Ketua DPD RI H Irman Gusman SE MM, mantan Ketua MK Prof H Jimly Assiddiqi SH, Seniman H Taufiq Ismail, anggota DPD RI H AM Fatwa, PP Muhammadiyah Ir H Dasron Hamid MSc, anggota DPD RI Ny Hj Aida Z Nasution  Ismet Abdullah menyumbangkan puisi, dan Ketua  CIDES  Indonesia Rahmad Mulyono.

Anwar Ibrahim saat berpidato mengatakan, korupsi adalah sebuah malapetaka harus diperangi, karena rakyat bisa menderita miskin, tak berdaya, dan menganga lebar jurang si kaya dan si miskin di suatu Negara. Korupsi jauh dari  keadilan politik, ekonomi, kejujuran, bahkan malapetaka akan muncul.

Menurut Anwar Ibrahim, jika koruptor di RRC (Republik Rakyat Cina) batang lehernya dipotong, di Arab Saudi tangannya dipotong, dan koruptor di Indonesia yang dipotong cuma tahanannya. Para undangan pun tertawa mendengar gurauan Anwar Ibrahim sambil menambahkan, di Malaysia yang petingginya sangat berpikir Feodal. Di sana ada korupsi, tapi sembunyi-sembunyi, halus mungkin, karena jajahan Inggris. Tapi Indonesia dijajah Belanda yang kasar dan keras. Akibatnya terbuka korupsi atas dan di bawah meja. “Padahal sogok menyogok itu sangat berbahaya,” tegas  Anwar Ibrahim yang pernah dipenjara, karena idealismenya membara menantang kesewenang-wenangan penguasa di sana.

Sejak umur 21 tahun, imbuh Anwar Ibrahim, sudah dekat dengan para intelektual, pemikir, dan pejuang Indonesia, seperti  Dr Soejatmoko, Dr Mohammad Natsir, Dr H Sutan Takdir Alisyahbana. Semuanya telah almarhum. Mereka ini patut dicontoh, karena cerdas, jujur, sederhana,  bahkan dekade kini  sering berdiskusi dengan mantan Presiden RI di era awal reformasi Prof Habibie. Inti dari reformasi, jelas Anwar Ibrahim, adalah hukum harus tegak, keadilan ekonomi jalan sesuai koridor demi pemerataan, dan  politik. Terlebih penting lagi, korupsi harus diperangi. (at)