
(Jakarta, MADINA): Penyelenggaraan Ibadah Haji dilakukan setiap tahun. Setiap tahun, penyelanggaan haji pasti ada masalah. Yang penting, masalahnya itu bisa diselesaikan atau tidak? Atau bagaimana cara pemecahannya agar masalah itu tidak terulang atau terjadi lagi.
Menteri Agama Suryadharma Ali selaku Amirul Haj sepulangnya dari Arab Saudi di Bandara Sukarno Hatta beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa penyelenggaraan ibadah haji tahun 2011 sukses. “Tetapi sukses bukan berarti tidak ada masalah,” katanya mengakui.
Indonesia tahun 2011 mendapat kuota sebanyak 221.000 jemaah terdiri dari 201.000 haji regular dan 20.000 haji khusus. Diberangkatkan dari 12 Embarkasi yang menerbangkan 502 kelompok terbang (kloter). Jemaah Haji Indonesia diberangkatkan mulai 2 Oktober - 31 Oktober. Pemberangkatn tidak banyak kendala yang berarti atau boleh disebut lancar-lancar saja.
Tetapi, pemulangan jemaah haji Indonesia yang diawali pada 11 Nopember hingga 10 Desember sebagaimana biasanya, pasti mengalami keterlambatan. Keterlamabatan itu, dirasakan sendiri oleh Amirul Haj dan rombongannya ketika mau pulang ke tanah air. Amirul Haj dan rombongan mengalami keterlambatan hingga 8 jam. Lantas bagaimana untuk jemaah? Doanya, mudah-mudahan jemaah tidak mengalami keterlambatan yang panjang.
Keterlambatan pemulangan jemaah haji Indonesia, alasannya klasik dan yang itu-itu saja, yaitu karena terbatasnya pintu keluar (Gate) dari bandara King Abdul Aziz. Sedangkan ribuan jemaah haji dari seluruh negara lain di waktu yang sama juga ingin bersama-sama pulang ke negaranya masing-masing.
Suryadharma Ali mengakui, bahwa pemulangan jemaah haji tahun lalu mengalami keterlambatan sekitar rata- rata 9 jam. Untuk itu, lanjut Menag, pemerintah Indonesia dan pihak Garuda Indonesia meminta kepada otoritas Bandara King Abdul Aziz untuk dapat menggunakan West Terminal atau terminal yang sudah lama tidak dipakai bisa digunakan untuk pemulangan jemaah haji Indonesia. Permintaan itu, dikabulkan. Uji coba penggunaan West terminal sudah dilakukan dan proses boarding tidak lebih dari satu jam. “Diharapkan keterlambatan bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.
Selain masalah keterlambatan pemulangan jemaah haji, juga masih banyak masalah lain yang harus diselesaikan. Di antaranya yang berkaitan dengan tranportasi dari Arofah ke Musdalifah dan Musdalifah – Mina yang menggunakan sistem taradudi (bolak-balik).
Tahun ini sebanyak 9 bus sebagai alat transportasi dari Arofah menuju Mina rusak dan mogok atau 63 pengangkutan jemaah tertunda. Akibat mogoknya bus tersebut, terjadi kemacetan yang luar biasa bukan hanya dialami jemaah haji Indonesia tetapi juga jemaah haji dari negara lain. Yang paling lama dialami jemaah haji dari Thailand jam 12.00 siang baru tiba di Mina. Sedangkan Jemaah Haji Indonesia terakhir tiba di Mina pukul 10.15 waktu setempat.
Masalah lain yang paling mencolok, adalah adanya jemaah haji Indonesia yang keracunan makanan, yaitu jemaah yang tergabung dalam Maktab 71 mengakibatkan jemaah menderita diare. Peristiwa itu terjadi pada 7 Nopember ketika jemaah makan malam. Saat makan tidak terasa apa-apa, tetapi setelah pukul 24.00 jemaah banyak yang sakit perut dan pada pukul 01.00 dinyatakan oleh tenaga kesehatan sebagai “keadaan luar biasa”.
Tetapi pada pukul 07.00 pagi “keadaan luar biasa” dicabut dan 329 jemaah yang terkena diare sudah bisa beraktivitas melaksanakan ibadah haji kecuali yang 8 orang harus dirawat di rumah sakit. Tetapi beberapa jam kemudian, 4 orang bisa pulang dan ke esok harinya yang ke-4 orang lainnya sudah boleh ke luar dari rumah sakit dan melakukan aktivitas ibadah haji.
Persoalan lain, adalah adanya tenda jemaah haji Indonesia di Mina dimasuki oleh jemaah haji non kuota, dan jemaah haji asing. Tetapi hal itu bisa diselesaikan. Berbagai broblem yang dihadapi itu sudah disampaikan secara lisan dan disusul tertulis kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. “Hal itu ditanggapi oleh Wakil Menteri Haji Arab Saudi Hakim Qhodi, akan ditindaklanjuti, dan akan menegur kepada pihak Maktab penyaji makanan,” kata Suryadharma Ali sambil menambahkan, hal itu tidak boleh terjadi pada masa mendatang.
Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari, tetapi bukan berarti hal itu dibiarkan. Mengapa tranportasi itu menjadi problem? Suryadharma Ali menceritakan, jemaah haji yang ada di Arofah sekitar 3 juta orang. Sedangkan satu bus kapasitasnya hanya 50 orang, maka untuk mengangkut jemaah haji dari Arofah ke Mina memerlukan 60 ribu bus. Dengan sistem taradudi yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi hanya diperlukan 15 ribu bus. Kalau 15 ribu bus dijejerkan, maka kalau masing-masing bus 5 m, maka panjangnya akan mencapai 75 ribu m (75 km). Kalau diberi jarak antar Bus masing-masing satu meter, maka akan memakan 15 ribu meter. Artinya panjang bus seluruhnya 90 ribu meter atau 90 km.
Sementara jarak Arofah dengan Mina hanya 17 km. Selama bus tidak ada gangguan akan lancar-lancar saja, tetapi kalau ada satu bus yang mogok, maka akan terjadi kemacetan yang luar biasa. “Hal ini juga kami samapaikan ke Pemerintah Arab Saudi agar dicarikan jalan supaya tidak terjadi kemacetan saat jemaah haji berangkat dari Arofah menuju Musdalifah dan dari Musdalifah ke Mina,” ujar Suryadharma Ali.
Itu semua, adalah masalah yang terjadi di luar Indonesia yang mungkin penyelesaiannya tidak hanya oleh Pemerintah Indonesia. Tetapi masalah di dalam negeri sendiri tidak kalah rumit. Proses pelaksanaan haji ini, masih banyak yang harus ditata ulang. Salah satu contohnya, adalah masih banyaknya Kelompok Bimbingan Haji yang mengaku KBIH Plus menerima pembayaran $ 60 ribu - $ 70 ribu. Tetapi kenyataannya tidak bertanggung jawab. Dia menjanjikan untuk bisa berangkat tahun ini juga. Para jemaah telah mendapatkan koper, baju seragam, dan perlengkapan lain seperti jemaah lainnya.
Karena telah mendapatkan perlengkapan cukup, maka dirinya yakin akan berangkat haji tahun ini. Dengan keyakinan, maka serta merta dia mengundang sanak famili, tetangga, kerabat dekat untuk mengadakan syukuran sebagai pamitan. Tetapi tiba-tiba dengan seenaknya KBIH tersebut tanpa memiliki perasaan moral membatalkan keberangkatan dengan alasan tidak mendapatkan visa. Tampaknya masih banyak problem lain di dalam negeri yang harus diselesaikan Pemerintah Indonesia CQ Kementerian Agama RI. Khususnsya dalam menyelesaikan deretan daftar tunggu calon jemaah haji yang mencapai 1, 5 juta. (sy/M4)