Saturday, May 19, 2012
    
first
  
last
 
 
start
stop
first
  
last
 
 
start
stop
first
  
last
 
 
start
stop

(Jakarta, MADINA): Penyaluran dana untuk Gerakan Nasional Rehabilitasi Gedung Sekolah 2011 berjalan lancar. Sebesar 63,9 persen dari Rp 617 miliar yang disediakan untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar, sudah disalurkan. Bahkan, untuk rehabilitasi gedung sekolah menengah pertama, sudah disalurkan mencapai 95,60 persen dari total alokasi dana Rp 129 miliar.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Sosial dan Ekonomi Taufik Hanafi menjelaskan, ada empat tahapan yang dilalui dalam menjalankan Gerakan Nasional Rehabilitasi Gedung Sekolah. Pertama, identifikasi sekolah yang menjadi sasaran. Kedua, penandatanganan nota kesepahaman (MoU – Memorandum of Understanding) ketika program diluncurkan.

“Yang ketiga, adalah penyaluran dana ke sekolah-sekolah, dan terakhir, dimulainya kegiatan fisik,” ujarnya pada jumpa pers di Gedung C Kemdikbud, Jumat, (4/11). Hadir dalam kesempatan ini, Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi dan Media Sukemi, Direktur Pembinaan SMP Didik Suhardi, Kepala Sub Direktorat Pembinaan SD Samino.

Menurut Taufik, kelancaran penyaluran dana menjadi tolok ukur kelancaran kegiatan fisik. Saat ini dua daerah yang memiliki perkembangan rehabilitasi yang cepat adalah Serang (Banten) dan Bogor (Jawa Barat). Secara keseluruhan di Indonesia, kegiatan fisik telah dimulai di 193 gedung SD dan 43 gedung SMP. Kegiatan fisik tersebut di antaranya berupa penggalian untuk fondasi bangunan dan penyiapan kusen-kusen secara paralel. “Kalau kegiatan fisik jalan, berarti dananya sudah sampai,” ujarTaufik.

Dalam melaksanakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Gedung Sekolah ini, Kemdikbud menghadapi beberapa kendala. Misalnya, dalam proses penyaluran dana. Kendala yang dihadapi, adalah adanya sekolah yang menyerahkan nomor rekening yang sudah tidak aktif atau sudah tidak berlaku, sehingga dana dikembalikan lagi ke kas negara.

Sebagai solusinya, kas Negara kemudian menyurati Kemdikbud jika rekening sekolah tidak bisa digunakan. Kemdikbud lalu meminta sekolah membuat rekening baru untuk segera disampaikan ke kas negara.

Kendala lain, adalah sedikit terganggunya proses kegiatan belajar mengajar anak didik. Taufik menjelaskan, supaya kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik, anak-anak yang gedung sekolahnya sedang direhabilitasi, dipindahkan sementara ke gedung SD lain yang terdekat. “Jika tidak ada yang terdekat, akan dibuatkan tenda-tenda. Di sinilah pentingnya bekerjasama dengan TNI. Mereka memberikan bantuan dengan menyiapkan tenda-tenda untuk belajar, terutama di daerah Kupang,” ucapTaufik.

Sementara untuk sistem pengawasan, Kemdikbud juga bekerjasama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Kemdikbud, PerguruanTinggi, dan masyarakat. Salah satunya melalui komite sekolah.  “Peran BPKP memberikan pendampingan tata kelola keuangan yang baik. Untuk penyusunan petunjuk teknis atau juknis, kami juga menerima masukan dari BPKP,” tuturTaufik.

Untuk ke depannya, mekanisme pemantauan perkembangan rehabilitasi gedung sekolah akan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi atau IT (information technology), termasuk berbasis situs internet (web based).  “Jadi teman-teman di daerah akan lebih mudah mengumpulkan data ke pusat. Selain itu, public juga bisa lebih mudahmengakses,” lanjut Taufiq.

Taufik mengatakan, saat ini system pemantauan dengan IT masih disiapkan, bekerjasama dengan Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) dan Direktorat SD dan SMP Kemdikbud. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa selesai,” pungkasnya.(leg/M4)

Sosok

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5