PEMBERITAAN soal korupsi akhir-akhir ini demikian marak. Terlebih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) punya nyali membekuk para elite partai yang diduga keras melakukan korupsi menghabiskan Negara miliaran dan bahkan triliunan rupiah.
Meski begitu maraknya pemberitaan menyangkut korupsi, masyarakat nyaris tidak tahu siapa-siapa saja yang dikategorikan korutor oleh pengadilan, karena tidak tayangkan dalam satu program acara televise.
Beberapa waktu lampau, pernah ada tayangan televisi yang paling bermutu, setidaknya “bermutu” bagi orang-orang terdidik, yakni tayangan para koruptor. Tapi kini sudah tidak ada lagi.
Padahal acara itu adalah tontonan spektakuler, semacam khusus gambar hidup keajaiban di Indonesia. Dikatakan ajaib, karena tontonan itu tak dibungkus oleh kepandaian estetika bercerita: melainkan infromasi langsung.
Tontonan yang kita maksudkan itu adalah penayangan para koruptor, menyangkut sepak terjang dan biografinya. Apa yang ada dalam mata acara untuk konsumsi publik terdidik ini, adalah informasi langsung, yang menghubungkan sebuah dunia yang jauh: dunia kaum buronan dan dunia semak belukar korupsi, dengan dunia-dunia lain yang terpisah satu sama lain. Dari sini banyak hal yang diketahui publik.
Bersamaan pula penayangan itu, pelan-pelan, telah menjadi makrokosmos harapan yang bersentuhan terus menerus dengan berjuta-juta mikrokosmos keinginan menggapai keadilan. Kita, publik luas, menonton acara itu penuh antusias; bukan karena kita suka menyoraki terhadap mereka yang tertangkap akibat perbuatan jahatnnya membobol keuangan negara; melainkan, karena kita menghirup kegairahan bahwa hukum pun butuh kepetusannya disebarluaskan.
Tapi, keajaiban itu sudah tidak lagi kita nikmati: satu-satunya tontonan bermutu itu sudah tak ditayangkan lagi. Apakah ini berarti stokc para koruptor sudah habis, hingga tak bisa lagi ditayanngkan? Ataukah ada “hal-hal yang lain”? Soal stokc koruptor untuk ditayangakan, publik luas sudah cukup tahu, teramat banyak, jadi tipis kalau dibilang stokc koruptor mulai habis. Lantas, mengapa dihentikan tayangan itu? Ada “hal-hal lain” tentunya. Apa itu?
Kemudian pada akhirnya kita hanya tahu: tontonan yang mendidik, di televisi kita, selalu saja longsor. Dan ia seperti kalah pamor oleh tontonan yang demikian heboh menjual mimpi. Tapi, harus juga kita akui, pada realitasnya justru tontonan menjual mimpi yang laku. Ini sebuah isyarat tentang berakhirnya suatu masa di mana televisi tak lagi punya kebutuhan menyuluhkan publik dengan menampilkan para koruptor. Masa yang baru pun menyingsing dalam pengertian komersil televisi: yang laku, yang harus dijual, yang ditayangkan. Tidak ada kaitan ini, wassalam.
Padahal penayangan koruptor, sekecil apapun faedahnya, memberikan banyak kesempatan publik untuk secara bersama: teramat dibutuhkan sistem nilai masyarakat yang demikian sehat. Indikator perusaknya, apa yang di sini bernama para koruptor, lewat tayangan luas itulah publik dapat mendeteksikannya.
Pada sejumlah mata acara televisi, ternyata, apa yang bernama kampanye memberantas korupsi seperti tak mendapat tempat. Ada selalu sesuatu yang luruh dalam ketersendatan tidak meluasnya kampanye memberantas korupsi. Dan televisi memang di sana-sini terasa cengeng, dan kelewat kemayu, ketika menengok ke masa penayangan para koruptor.
Pelan-pelan, kita harus menerima, meskipun dengan rasa enggan, fakta sederhana ini: koruptor itu ada tapi sulit dikenali. ***
News -
Tajuk