Saturday, May 19, 2012

Puncak peringatan HPN (Hari Pers Nasional) baru saja usai digelar, 9 Februari 2012 di Jambi. Ada beberapa hal menarik yang patut  dicatat dari HPN kali ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ikut hadir bersama Ibu Negara Ani Yudhyono sunguh  terlihat banyak tersenyum. Senyum sumringah itu terutama ketika mengikuti laporan dari penanggung jawab HPN, Margiono. Para hadirin pun, selain banyak senyum  juga banyak diundang tawa oleh Margiono yang berbicara tanpa membaca teks.



Salah satu pidato Margiono, Ketua Umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang mengundang gelak dan tepuk tangan adalah ketika menyinggung tentang Dahlan Iskan yang kini menjabat Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Margiono dalam acara yang disebut paling banyak dihadiri wartawan itu, menyampaikan terimakasih kepada SBY karena mempercayai salah seorang insan pers, Dahlan Iskan, duduk sebagai anggota Kabinet Indonesia Bersatu II.

Hal yang mengundang tawa, ketika Margiono menyebut keberadaan Dahlan Iskan dalam kabinet adalah sebagai titipan. “Kalau dianggap banyak bermanfaat , silakan diteruskan, sebaliknya kalau tidak kami siap menerima kembali,” ujar Margiono yang disambut tepuk tangan. Hadirin kian tertawa, ketika Margiono menyebutkan orang semacam Dahlan Iskan banyak di kalangan dunia pers, dan siap dimanfaatkan bila diperlukan lagi oleh Presiden SBY. 

Melihat senyum sumringah SBY bersama Ani Yudhoyono, rasanya seperti tidak ada masalah bangsa dan Negara yang terlalu sulit untuk diselesaikan. Berbagai heboh pemberitaan yang banyak menyorot tentang SBY dan Partai Demokrat terakhir ini seolah tidak begitu terasa dalam suasana HPN,  meskipun Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring yang ikut berbicara pada HPN ini,  menyebut kata Sondah dalam pantunnya yang mengingatkan ramainya sorotan publik terhadap kader Partai Demokrat, Angelina Sondakh.        

Pidato Presiden SBY dalam acara yang digelar di Gedung DPRD Jambi ini, juga terasa santai meski substansi yang disampaikan layak disimak. “Sebenarnya, karena saya pembicara kelima, tidak terlalu banyak yang ingin saya sampaikan. Saya menyimak dengan seksama refleksi yang disampaikan oleh Bung Margiono. Saya terkesan. Begitulah kita bersama-sama saling menyapa, saling berkomunikasi di antara kita karena tidak ada satupun yang ada di ruangan ini yang tidak punya cita-cita yang baik, keinginan yang baik untuk membikin negeri kita menjadi lebih baik,” ucap SBY.

Kata “saya terkesan” dari SBY ini menurut beberapa rekan pers yang hadir tidaklah mengada-ada, biarpun ada juga yang menyindir terkait dengan alokasi waktu. Betapa tidak, Margiono dalam jadwal diberi waktu bicara sekitar 10 menit  tapi dia berbicara lebih 30 menit. “Kita tidak sadar, pak Margiono bicara cukup lama tapi cara penyampaiannya yang penuh guyon membuat waktu lama tidak terasa,” komentar seorang Pengurus PWI Pusat.

SBY sendiri dalam pidato HPN kali ini, kembali banyak mengapresiasi kiprah pers nasional, meski media pers gencar membuat pemberitaan miring tentang diri dan  kinerja pemerintahannya, termasuk yang terakhir mengenai Partai Demokrat.  “Saya akan mulai dengan ucapan selamat kepada insan pers atas Hari Pers Nasional tahun ini. Terima kasih dan penghargaan kepada saudara atas kontribusinya, baik dalam pembangunan bangsa maupun dalam pengembangan demokrasi,” ucap SBY.

Presiden SBY melanjutkan, “Saya mencatat, tahun-tahun terakhir ini, peran dan prestasi komunitas pers itu memang patut dicatat. Saya mengenali sejumlah prakarsa dan juga karya yang positif dari komunitas pers, apakah itu Dewan Pers atau PWI dengan organisasi profesi wartawan yang lain, SPS. Pendek kata, semua, saya lihat, telah berusaha gigih untuk membangun komunikasi antara pers dengan publik, termasuk setiap Hari Pers dilaksanakan di provinsi yang berbeda. Ini saya lihat sebagai upaya pers untuk juga menjalin komunikasi dengan saudara-saudaranya, dengan daerah-daerah di seluruh tanah air.”

“Saya juga melihat bahwa pers, dalam hal ini komunitas pers, dengan gigih untuk meningkatkan kapasitas insan pers, baik melalui pendidikan, pelatihan maupun peningkatan kompetensi, sertifikasi, dan sebagainya. Ini sesuatu yang patut kita hargai karena betapa penting peran pers, tanggung jawab moralnya besar. Apa yang dilakukan memiliki impact yang luas kepada masyarakat luas. Maka, saya senang bahwa komunitas pers sendiri menyadari perlu terus untuk menjaga integritas, dan meningkatkan kapasitasnya. Tentu, banyak lagi yang menurut saya patut kita berikan penghargaan berbagai upaya yang dilaksanakan oleh komunitas pers dewasa ini,” kata SBY lagi, sebagaimana dapat kita baca lengkap lewat  situs presidensby.info.

Menyangkut sikap SBY terhadap kebebasan pers saat ini, dia mengemukakan, “saya tetap konsisten hingga hari ini bahwa freedom of the press itu sangat penting untuk kita hadirkan di negeri ini.” Ditambahkannya, memang ada ekses dari adanya kebebasan, sebagaimana  terjadi di hampir semua negara, dari the exercise of freedom of the press. “Tetapi, Pak Bagir Manan tadi mengingatkan, dan itu benar, bahwa bagaimanapun akan jauh lebih baik ada freedom of the press di suatu negara, dibandingkan apabila tidak ada, sebagaimana yang biasanya berlaku di negara dengan sistem totalitarian maupun otoritarian,” ujar SBY.

”Tidak usah khawatir. Yang penting, dengan penuh kesadaran, marilah ekses ini kita kelola dengan baik. Dan, yang paling tepat mengelola, mencegah dan mengelola ekses ini adalah dari komunitas wartawan itu sendiri,” kata SBY lagi soal ekses kebebasan pers.

Ketua Dewan Pers Prof Dr Bagir Manan memang untuk pertama kali dalam puncak acara HPN tampil berbicara dan banyak menyinggung soal kebebasan pers. SBY menilai,  Bagir Manan telah mengupas sisi-sisi atau dinamika dari peran pers di tanah air kita ini. “Saya dengarkan dengan benar tadi, Pak Bagir, banyak hal yang telah kita capai, meskipun banyak pula yang belum kita capai. Anggaplah, kalau masih ada pekerjaan rumah dari yang kita lakukan ini, mari kita kerjakan bersama-sama dengan niat dan kesungguhan kita untuk melaksanakannya. Kita bisa berkomunikasi lebih lanjut nanti untuk membahas isu-isu penting yang Bapak sampaikan tadi,” kata SBY.

Menurut SBY, dengan kemerdekaan pers, rakyat bisa mendapatkan informasi yang diharapkan dalam rangka memenuhi prinsip the right to know of the people terhadap apa yang terjadi di negaranya maupun di tingkat dunia. Lebih dari itu, kebebasan pers membuat  kehidupan demokrasi dapat  dijaga dan dikawal. “Lantas, pemerintah dan semua lembaga negara juga bisa dikontrol oleh pers. Aspirasi dan perasaan rakyat bisa disuarakan. Kebijakan publik, utamanya apa yang pemerintah lakukan, baik yang telah dicapai maupun yang belum dicapai, itu juga bisa disampaikan kepada rakyat. Akhirnya, terjadi proses yang terbuka untuk saling berinteraksi antara organ negara dengan rakyatnya. Ini juga jasa pers dan media massa.”

SBY meyakini, jika semua elemen tadi benar-benar dijalankan, tentu akan membawa manfaat dan kebaikan yang luar biasa bagi bangsa dan negara. Hanya diingatkan, apa yang dikomunikasikan oleh pers itu hendaklah dilakukan secara sehat, jujur, objektif, dan seimbang. “Manakala pemberitaan sangat tidak berimbang, hanya memberitakan yang serba buruk dan sama sekali tidak mengangkat yang serba baik, atau sebaliknya, yang diberitakan oleh sebuah pers di sebuah negara hanya yang baik-baiknya saja, kemudian tidak muncul kekurangan ataupun hal-hal yang belum baik di negara itu, dua-duanya itu berarti tidak berimbang, dan itu tentu bukan pilihan kita karena rakyat sesungguhnya ingin mendapatkan informasi yang benar dan utuh tentang negaranya,” tutur SBY.

SBY menyatakan, pemberitaan yang tidak seimbang, misalnya  yang diangkat adalah yang serba serba baik saja, seyogyanya  itu sudah masa lalu kita. Pemberitaan kalau sangat tidak berimbang, maka rakyat  akhirnya akan menjadi  “masyarakat yang cynical, yang skeptis, berpikir serba negatif, pesimis, tidak percaya, dan mudah menyalahkan pemerintahnya, bahkan menyalahkan bangsa dan negaranya sendiri. Keadaan demikian tentu tidak baik bagi pembangunan karakter dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia.”

Melalui HPN 2012 di Jambi, Presiden SBY terlihat tetap membiarkan kehidupan pers sebagaimana sekarang. Pernyataan ini senada dengan Tifatul Sembiring yang dalam Konvensi Media Massa, 8 Februari di jambi menegaskan, kemerdekaan pers saat ini tetap akan terus dipertahankan, dan Indonesia tidak akan mundur sebagaimana masa lalu. Buat SBY sendiri, komitmen ini dikaitkannya dengan masa jabatan dan posisinya sekarang yang sudah dua kali menjabat. “Saya harus mengatakan seperti itu karena saya ingin, insya Allah setelah dua tahun mendatang saya mengakhiri tugas saya, presiden-presiden setelah saya nanti, pemerintahan setelah pemerintahan yang saya pimpin jauh lebih sukses, lebih berhasil, dan berbuat lebih banyak untuk bangsa dan negara kita,” ucapnya.

Menyimak pidato SBY, Bagir Manan dan juga Margiono, tidak salah bila HPN 2012 penuh dalam suasana semangat untuk tetap membangun kemerdekaan pers dengan kemitraan yang sejajar antar insan pers, pemerintah dan masyarakat. SBY berkeinginan terus membuka diri dengan insan pers. Oleh karena itu, Senin, 13 Februari 2012, dia melalukan dialog dengan para wartawan yang bertugas sehari-hari di Istana Presiden. Dialog ini pun dikomentari macam-macam, pro-kontra, banyak nada miring, terutama terkait materi dan penampilan SBY. Apapun komentar itu, dengan semangat keberimbangan dalam pemberitaan, selayaknya apresiasi pantas juga diberikan kepada SBY yang tetap tegar menghadapi hujan kritik publik yang ditampilkan lewat media massa.***