
Pimpinan Aisyiyah Provinsi Sulawesi Tengah, Ibu Prof. Dr.Hj.Dahlia Syuaib, SH, MA, bersama sesepuh kaum perempuan Sulteng, yang juga isteri Gubernur Sulteng, Ibu Hj. Zalzulmida A. Djanggola SH CN, sepakat bekerja sama menggabungkan kegiatan kaum ibu dari berbagai organisasi sosial di seluruh Sulteng dalam gerakan pemberdayaan keluarga secara gotong royong. Menanggapi gagasan Posdaya sebagai forum komunikasi dan konsultasi bersama pada tingkat desa, secara spontan Ibu Hj. Zalzulmida yang didampingi Ketua Aisyiyah telah mengkukuhkan beberapa Posdaya sebagai awal dari gerakan terpadu melalui Posdaya di seluruh Sulteng.
Dalam suatu kesempatan pertemuan yang dihadiri oleh wakil-wakil Pengurus Aisyiyah dari seluruh cabang di Sulawesi Tengah itu, isteri Gubernur, dalam kesempatan mengkukuhkan Posdaya dari berbagai daerah meminta agar upaya gotong royong yang bisa dilakukan di desa merupakan awal dari upaya menyegarkan kembali semangat kebersamaan untuk memajukan keluarga, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan membangun Sulteng secara gotong royong.
Ibu Prof. Dr.Hj.Dahlia Syuaib, SH, MA, yang mengawali pidato dengan tekad yang besar untuk membangun Posdaya di seluruh Sulawersi Tengah, mengajak seluruh Pengurus dan anggota Aisyiyah dari seluruh kabupaten/kota agar sesegera mungkin membentuk Posdaya di desa-desa binaan yang selama ini telah dikembangkan oleh organisasi Aisyiyah dan mengisinya dengan program-program untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun keluarga sakinah.
Pidato kedua tokoh tersebut rupanya tidak saja berupa anjuran. Pada saat semua cabang Aisyiyah berkumpul di pendopo Kantor Gubernur minggu lalu, sebagai Pimpinan Aisyiyah, Ibu Prof. Dr.Hj.Dahlia Syuaib, SH, MA menggelar acara penandatanganan kerjasama (MOU) antara tiga institusi yaitu Universitas Muhammadiyah Palu, Aisyiyah dan Yayasan Damandiri di Palu. Kerjasama itu meliputi keterpaduan pengiriman mahasiswa KKN tematik Posdaya ke pusat-pusat desa pengembangan yang ditangani oleh cabang Aisyiyah di kabupaten/kota masing-masing. Melalui kerjasama itu para mahasiswa diharapkan mengisi setiap Posdaya yang telah dibentuk atau akan dibentuk oleh Aisyiyah dengan program-program yang bermutu.
Berhubung dengan penandatanganan MOU tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, Drs. Aminun P. Omolu, M.Ag, menyatakan kesiapsiagaannya bahwa tahun ini akan mengirim rombongan mahasiswa semester tujuh ke desa-desa sebanyak dua kali dengan masing-masing rombongan terdiri kurang lebih sebanyak 400 mahasiswa. Setiap rombongan yang terdiri dari 400 mahasiswa itu akan tinggal di desa selama satu sampai dua bulan untuk bekerja sama dengan Ibu-ibu Pengurus dan anggota Aisyiyah serta organisasi sosial lain membentuk, mengisi dan meningkatkan dinamika Posdaya untuk mendampingi pemberdayaan keluarga.
Salah satu contoh yang menarik adalah perkembangan di Kelurahan Palupi di Kota Palu. Keluaarga di Kelurahan itu telah membentuk beberapa Posdaya, satu diantaranya dinamakan Posdaya Nosahara. Dalam lingkungan Posdaya ini bapak-bapak dan ibu-ibu yang tergabung didalamnya melakukan berbagai kegiatan, antara lain kegiatan ekonomi kelompok yang sangat menarik. Mereka mengumpulkan koran bekas dan di pilih-pilih menjadi bahan baku untuk pembuatan alat-alat rumah tangga seperti tempat tisu, tempat pensil, tas dan lainnya yang sangat unik dan menarik. Para anggota juga membuat sandal dan keperluan rumah tangga lainnya dari sisa-sisa alat kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat digunakan lagi. Daur ulang menjadi suatu kegiatan baru dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar rumah.
Hasil produk yang dikerjakan secara gotong royong dijualĀ dan menghasilkan pendapatan yang dipergunakan untuk kegiatan lainnya. Hasil penjualan itu menjadi modal untuk membuat kue, makanan kecil dan jajanan anak sekolah dimana kemampuan anggotanya diajarkan oleh anggota lain secara gotong royong. Para anggota yang mampu membantu anggota lain yang kurang mampu atau belum bisa melakukannya secara mandiri.
Kegiatan ekonomi lainnya termasuk membuat pupuk dari bahan sampah yang banyak di daerah tersebut. Pupuk organik yang mereka buat dipergunakan untuk menyuburkan lahan yang masih banyak terbengkalai di daerah Sulawesi Tengah untuk tanaman yang ada manfaatnya. Disamping kegiatan ekonomi, sebagai bagian dari program pengentasan kemiskinan, para anggota juga meningkatkan kegiatan pendidikan dengan menyegarkan program Bina Keluarga Balita yang pernah populer di masa lalu. Mereka mengembangkan program BKB menjadi program PAUD dengan mengambil guru profesional untuk mempersiapkan anak balita agar makin mulus melanjutkan pendidikan pada sekolah dasar.
Program kesehatan yang umumnya dikembangkan di desa melalui Posyandu juga tidak luput dari kegiatan Posdaya. Kecurigaan sementara kalangan yang meragukan Posdaya sebagai pesaing dari Posyandu makin lenyap karena ternyata Posdaya menjadi mitra terpercaya dari Posyandu di desa dan pedukuhan. Posdaya yang diikuti oleh kalangan yang lebih luas menjadi penguat Posyandu. Di Kelurahan Palupi kegiatan Posdaya telah dapat dipadukan dengan kegiatan PNPM Mandiri yang umumnya bergerak dalam pengembangan infrastruktur seperti jalan, fasilitas umum, dan pemberian modal bergulir untuk usaha ekonomi mikro. Keluarga yang telah memperoleh kemudahan dengan program ini dapat mengembangkan kelompok dalam Posdaya dan memperoleh keuntungan dari pendekatan Posdaya dalam bidang ekonomi mikro dan akses Bank yang menjadi mitra Posdaya. Kedua program itu tidak saling bertabrakan tetapi justru saling memperkuat dalam mendampingi keluarga miskin membangun keluarga sejahtera.
(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri , www.haryono.com)