Saturday, May 19, 2012

Tidak kurang dari 800 mahasiswa, bagian awal dari sekitar 1600 mahasiswa Universitas Tadulako di Palu, Sulawesi Tengah, yang tahun ini akan diterjunkan ke desa membawa kemajuan, minggu lalu dilepas oleh Rektor dan para wakil Rektor di Kampusnya di Palu. Ketua Yayasan Damandiri diundang untuk ikut menambah pembekalan mahasiswa yang akan berjuang bersama rakyat menyelesaikan target dan sasaran MDGs di beberapa desa di Sulawesi Tengah yang dianggap masih perawan tersebut.

Para mahasiswa yang setiap semester akan terjun dalam jumlah tidak kurang dari 800 orang itu berasal dari berbagai fakultas dan program studi dikawal oleh dosen pembimbingnya. Mereka akan tinggal membaur bersama rakyat selama dua bulan membantu mendiaknosa dan memecahkan masalah bersama dalam kelompok dan pos-pos pemberdayaan keluarga (Posdaya). Pembantu Rektor IV, Prof. Ir. Zainuddin Basri, PhD yang mewakili Rektor yang sedang bertugas di luar negeri menyatakan bahwa KKN tematik kali ini merupakan yang kedua dengan membawakan tema Posdaya, sehingga diharapkan pengalaman pada masa  lalu dapat menjadi pedoman yang berharga untuk bersama masyarakat membangun bangsa melalui gerakan pemberdayaan keluarga dalam wadah bersama Posdaya.

Para mahasiswa yang telah siap itu menyatakan bahwa mereka bisa saja tidak selesai atau tidak sempurna membantu masyarakat selama dua bulan, oleh karena itu mereka meminta agar diberi kesempatan untuk tinggal atau bergumul bersama masyarakat dalam waktu yang lebih lama. Dengan kesepakatan wakil rektor atas nama rektor, dibuka kesempatan untuk mengunjungi Posdaya binaannya setelah KKN selesai. Mereka boleh mendaftar sebagai mahasiswa relawan untuk menyempurnakan Posdaya yang mereka bentuk bersama selama masa KKN.

Para Wakil rektor akan membicarakan hal ini dengan rektor dengan kemungkinan memberikan penghargaan bersama Yayasan Damandiri manakala mereka berhasil membangun Posdaya dengan segala kegiatannya di lapangan. Para mahasiswa merasa nyaman karena ada kemungkinan bisa memperebutkan hadiah yang menarik, seperti misalnya bantuan uang kuliah atau keunggulan lain yang memperlancar studi mereka dalam lingkungan perguruan tinggi yang membawakan semangat kepahlawanan tersebut.

Dalam tambahan pembekalan tersebut ditekankan agar seluruh mahasiswa membentuk atau menyegarkan Posdaya yang telah terbentuk dengan kegiatan yang mudah dilaksanakan oleh rakyat biasa di pedesaan, bukan kegiatan rumit yang menjauhkan keluarga desa dari Posdaya. Upaya ekonomi mikro dengan modal tidak lebih dari dua juta rupiah menjadi sasaran utama, disusul dengan kegiatan pendidikan anak usia dini, kesehatan ibu hamil dan melahirkan yang minimal harus memeriksakan kehamilannya sebanyak empat kali selama masa kehamilan. Program-program seperti ini perlu dikombinasikan dengan pengembangan halaman rumah menjadi Kebun Bergizi untuk memperbaiki mutu gizi keluarga. Pengembangkan Kebun Bergizi itu hendaknya diutamakan pada keluarga yang anggotanya sedang hamil, atau mempunyai anak balita, atau mempunyai salah satu anggota yang lansia. Diharapkan agar keluarga dengan salah satu anggotanya disabilitas diutamakan segera membangun Kebun Bergizi di halaman rumahnya. Prinsip utama dari kegiatan pendidikan, kesehatan, wirausaha atau kebun bergizi itu adalah partisipasi yang berkelanjutan dari sebanyak-banyaknya anggota Posdaya yang dipelihara dengan tekun dan berkelanjutan. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).