Mereka Mencekik Rakyat
Thursday, 16 February 2012 13:56
Written by Admin
Oleh: Prof Dr Syofyan Saad, MPdMADINA Edisi 378 dalam beritanya memberitahukan: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan sejumlah pengamat setuju adanya kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Padahal, masyarakat ramai bereaksi terhahadap (rencana) pemerintah menaikkan harga BBM. (Ketika tulisan ini dibuat pemerintah belum menaikan harga BBM).
Pada sisi ini kita dapat mengerti mengapa masyarakat begitu bereaksi keras. Namun demikian, di sisi lain para elite dan pengamat masih terlalu pagi menyetujui kenaikan harga BBM membuat kita miris. Dan parahnya, momen itu langsung disambar oleh sejumlah para spekulan BBM.
Sebagaimana diberitakan mass media akhir-akhir ini, sejumlah spekulan BBM sudah mulai menimbun BBM dibongkar apara penegak hukum. kita tidak habis pikir mengapa ada saja para spekulan penimbun BBM menciduk keuntungan dikemelut demikian.
Bersama ini kita mintakan pula Kepolisian Republik Indonesia agar terus menerus jangan mengendurkan pengawasannya dan senantiasa cepat menindak tegas para spekulan atau penimbun BBM. Sekurang-kurangnya, Polri harus mencium bahwa akan ada kenaikan BBM pastilah para spekulan penimbun BBM sudah bermain. Pengalaman ini telah mengajarkan pada kisa-kisah lalu, maupun di sektor lain sewaktu dulu harga beras mau naik.
Polisi harus cepat bergerak menghidupkan seluruh jaringan kepolisian daerah untuk menyelidiki kemungkinan adanya penimbunan BBM oleh para spekulan. Segeralah bekuk agar jangan ada yang menjadi spekulan. Karena hal ini menandakan aparat penegak hukum kita tidak main-main, dan ini patut kita dukung.
Bagaimanapun juga tindakan penimbun BBM merupakan kejahatan yang utama dari tatanan keadilan sosial. Keinaikan harga BBM yang memang dirasa masyarakat luas tersa memberatkan, justru tambah diperberat dan mencekik masyarakat. Kerana ketika harga BBM sudah naik, "emas-emas" cair mereka gelontorkan ke tengah masyarakat dengan penjualan yang untungnya berlipat-lipat.
Tampaklah kemudian betapa keniakan harga BBM justru mengenaskan keadaan masyarakat. Sementara di sisi bersamaan, lebih jauh juga pers memberitakan malah tidak sedikit oknum-oknum "Pusat Perminyakan" Negara di pusat maupun daerah bermain mata dengan para spekulan BBM. BBM yang sudah masuk tempat-tempat penimbunan para penimbun BBM, berubah menjadi "emas cair" yang di jual dipasaran.
Di dalam situasi dan kondisi negeri ini yang masih kuat tuntutan keadilan sosial, maka belum terealisasinya implementasi penghukuman kepada para pencoleng negara yang beranam penimbun BBM; membuat harga BBM betul-betul mencekik masyarakat. Jelas kesalahan ini terletak pada pemikiran tidak spekulan BBM ketimbang spekulan beras, karena itu kontrol tak perlu ketat.
Ketragisan demikian harus ditanggulangi, sebab dari kelihaian para spekulan itu masyarakat dirugikan. Dan lebih jauh, pada gilirannya, masyarakat apatis terhadap upaya-upaya menegakan keadilan sosial.
Perasaan atau sikap apatis terhadap upaya-upaya penegakan keadilan sosial dari masyarakat, jika tidak cepat-cepat kita atasi, maka akan menjurus anarkis. Telah menjadi jelas bahwa demo-demo penolakan atas kenaikan BBM selalu ada kecemasan, yang boleh jadi, mudah meledekan senitimen. Dalam banyak hal ini dapat membuahkan risiko mengerikan. Di sini menjadi benar apa prediksikan para analis bahwa keadaan negara bisa bangkrut setelah merayakan Kebangkitan Nasional.
Pelabagi pihak menyerukan agar sejumlah ganjalan pengahambat sukses keadialan sosial tertegakan. Jika keadilan sosial tertegakan, dengan di dalamnya juga kesejahteraan masyarakat meningkat, niscaya kita bakal tak dapati lagi negeri makmur ini penuh orang-orang miskin. Distribusi hasil tambang dan energi tetap akan merata, dan demikian mantap.
Namun itu tidak akan merupakan harapan yang mudah begitu kita saja diraih.Bagaimanapun kita masih demikian sengit bergulat dengan persoalan-persoalan keinginan sampai begitu.
Kendati demikian, kita masih tidak berkecil hati untuk tetap bisa mewujudkan harapan tegaknya keadialan sosial, yang bersamaan pula kesejahteraan demikian kukuh. Ini artinya pola kekuasaan yang dimiliki para pemimpin negeri ini juga memprioritaskan hal tersebut. Sehingga kita bisa mengenali bahwa dari sana juga ada berupa kekuasaan yang tunduk pada pengawasan akhir penegakan kepada keadilan sosial.
Orang-orang yang menjalankan kekuasaan itu harus dengan bijaksana membutuhkan kualitas-kualitas yang agak berbeda untuk menindak para garong negara, yang dalam hal ini bernama para penimbun BBM. Tanpa ini, berapa juta mulut rakyat Indonesia jadi tidak bisa makan.
Unsur yang tidak tak terelakan lagi adalah terdapat dalam fakta bahwa posisi mereka itu tergantung pada kemapuan pribadi mereka. Dan mengingat mereka memiliki kekuasaan, mereka membutuhkan bahan masukan dari kita untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang berdasar untuk berlaku bijak
Dengan begitu terhadap mereka yang berkuasa, dari kenaikan harga BBM mereka tak ingin menarik suatu upeti ekonomi dari para spekulan BBM. Mereka harus menjadi lawan. Maka kekayaan tambang dikelola mereka yang berkuasa betul-betul dipergunakan yang tujuan nominalnya adalah kesejahteraan rakyat.
Setiap warga negara berhak mendapat kesejahteraan, dan mereka yang berkuasa harus punya hasrat untuk memberi manfaat dan memberi perhatian yang begitu banyak pada kesejatraan rakyt, terlebih rakyat mendiami negeri ini sebuah negri penuh minyak.
Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sebagian kepentingan itu mengangkut lapangan kerja dan kekayaan yang secara legal menjadi milik mereka.
Jadi, jangan biarkan para spekulan BBM mengihasp darah rakyat. ***