Saturday, May 19, 2012
    
first
  
last
 
 
start
stop
first
  
last
 
 
start
stop
first
  
last
 
 
start
stop

 

(Jogyakarta, MADINA): Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dituntut menjadi pendorong kekuatan bangsa. Peran Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) mengembangkan forum-forum yang ada di tingkat desa dan dukuh. Forum itu disebut Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang tempatnya bisa berpindah-pindah. Diharapkan Posdaya tumbuhnya seperti tumbuhnya Pos-pos KB desa, KB dukuh masala lalu ada di mana- mana.



Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono menyampaikan hal itu ketika memberikan sambutan  usai  membuka Training Of Trainer (TOT)  PKB Millennium Development Goals (DGS)  & Posdaya Tingkat Nasional Sejawa, di  Inna Garuda Hotel, Yogyakarta, baru-baru ini.

Pada masa lalu, menurut Prof Haryono Suyono,  kita dapat membentuk tidak kurang 600 ribu  Pos KB desa di seluruh Indonesia.  Selaku sesepuh KB, tambah Prof Haryono, yang telah bekerja sebagai Deputy KB selama 10 tahun,  Kepala BKKBN selama 16 tahun  mengajak para peserta rapat untuk membentuk Posdaya sebanyak-banyaknya di seluruh tanah air.

“Di tangan saudara, bahwa program  penuntasan sasaran MDGs akan diselesaikan secara mulus, seperti program KB di masa lalu.  Sehingga Pak Harto ketika itu diangkat sebagai pahlawan  dunia dalam  program KB. Program ini, adalah program pengulangan yang sama untuk  program MDGs,” tambah dia.

Ciri-ciri penduduk Indonesia di tahun 1970, adalah penduduk yang usianya muda, penduduk  yang 80% tinggal di desa, tingkat pendidikan rendah,tingkat ekonominya rendah sehingga penduduk seperti itu  sukar diberi 8 sasaran MDGs. Oleh karena itu, melalui sesepuh bangsa dan kebijaksanaan yang arif  pada 1970 yang  dibawa ke desa adalah  spiral, kondom, dan suntikan pasektomi sebagai alat program KB.

Pertanyaannya apakah PKB akan menghadapi sasaran,  seperti tahun 1970? Tentu tidak, karena yang dihadapi pada abad ke 21 ini, adalah penduduk muda. Keluarga yang dinamis, keluarga  tingkat pendidikannya tinggi, dan keluarga yang pragmatis. Untuk itulah, dalam melaksanakan program-program Posdaya kita bermitra dengan para rektor. “Melalui sasaran ini tidak  boleh rakyat diberikan sesatu yang bersifat carity. Tetapi mereka harus diajak bekerja keras dan cerdas,” ujarnya .

Sasarannya ini, diubah  pendekatannya menjadi pendekatan terpadu. Kalau dulu sasarannya keluarga muda sekarang semua keluarga menjadi sasaran  program kependudukan.  Sasaran kita, adalah pengentasan kemiskinan berbasis keluarga. Presiden memberi instruksinya, bahwa penanggulangan kemiskinan basisnya keluarga yang dibekali usaha-usaha miko dan kecil.  Para petugas penyuluh tidak lagi diminta untuk berpidato seperti pada 1970-an. Tetapi  penyuluh diminta memberikan contoh program aksi  seperti yang dilakukan mahasiwa dalam melakukan KKN di semua desa dan semua dukuh.

Program aksi yang pertama, adalah memebentuk Posdaya di semua desa.  Para petugas yang turun ke desa diminta membentuk kemitraan  di antara masyarakat seluas- luasnya. Penyuluh-penyuluh lapangan  diharapkan akan menjadi tuan rumah  bagi mahasiswa yang melakukan KKN. Penyuluh menyiapkan peta keluarga. Kalau dulu menyiapkan peta aseptor KB maupun usia subur.  Peta keluarga yang menjadi anggota Posdaya agar disiapkan agar siapaun yang datang ke Posdaya dapat mengetahui  siapa yang miskin dan siapa yang kaya. Peta tersebut,  memudahkan mitra-mitra yang datang ke Posdaya.  Begitu  juga untuk mendorong Posdaya yang belum punya Posyandu segera membentuk Posyandu, yang belum punya PAUD segera bentuk PAUD, dan yang belum punya  koperasi segera membentuk koperasi. (sy)

 

Damandiri

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8