(Jakarta, MADINA): Melalui dana Corporate Sosial Risponsibility (CSR) dari perusahaan, mahasiswa dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan kemampuan kejiwaan intepreneurship di kalangan rakyat. Sebab kalau intepreneurship hanya dimiliki sebagian kecil dari kalangan masyarakat yang sudah berpunya, maka makmurnya Indonesia akan memakan waktu ratusan tahun. Tetapi kalau intepreneurship dikembangkan melalui universitas, yakni melalui para dosen yang menerjunkan mahasiswa dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya di tingkat pedesaan, maka akan muncul generasi muda yang sejak masa anak-anak dididik berpikir secara intepreneur, berani mengadakan inovasi, dan berani mencoba melakukan usaha.
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono mengatakan hal itu ketika menjadi pembicara dalam seminar The Role of Corporate Social Responsibility (CSR) in Relation to the Growth of Entrepeneurship and the Workplace yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan, di Jakarta, Rabu lalu.
CSR, lanjut Prof Haryono Suyono, tidak hanya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat, tetapi juga tanggung jawab masyarakat untuk mempunyai nilai. Perlu dilihat, CSR sebagai sesuatu tanggung jawab yang berkeadilan, karena perusahaan mendapatkan keuntungan dari rakyat yang membeli produknya.
Mahasiswa perlu mendapat dukungan penuh dari CSR, karena mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan bangsa. CSR mengantar mahasiswa menjadi pemimpin yang berjiwa adil dan jiwa peduli. CSR merupakan satu dorongan untuk membuat mahasiswa mempyunyai jiwa inovatif dan menjadikan sesuatu yang berguna. Sifat intepreneurship tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa, tetapi juga dimiliki oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan.
Dosen dan mahasiswa mengantar paket yang mempunyai nilai internasional Millennium Development Goals (MDGs). Standarnya bukan ditentukan oleh menteri, dirjen, maupun dosen, tetapi ditentukan oleh kesepakatan dunia. Oleh karena itu, tambahnya lagi, CSR dalam hubungannya dengan mahasiswa, dosen pembimbing, dan ketua tim mahasiswa dalam gerakan ini terjun masuk ke desa.
CSR yang sekarang ini sedang dikerjakan oleh banyak perusahan lebih baik disalurkan kepada perguruan tinggi, dosen, dan kepada universitas sehingga tidak saja peruahaan itu melakukan pekerjaan CSR sendiri di lapangan, tetapi CSR meneyiapkan pemimpin masa depan dan kalau nanti para mahasiswa menjadi pemimpin, mereka sudah dekat dengan rakyat.
“Saya mengajak Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk mengembangkan CSR dan intepreneurship ini menjadi satu kesatuan bersama-sama dalam KKN Tematik, yaitu melakukan dialog, melakukan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi, bukan saja melakukan penelitian atau pengajaran, tetapi melakukan penelitian dan pengajaran yang bisa diterapkan oleh rakyat di pedesaan.
Saat ini, Yayasan Damandiri bersama 86 perguruan tinggi mengadakan kegiatan KKN untuk membuat forum Pemberdayan Keluarga atau Pos Pemberdayan Keluarga (Posdaya) pada tingkat desa.
Forum ini bersama-sama mengembangkan jiwa intepreneur, jiwa inovasi, semangat bekerja keras, semangat untuk belajar. Para mahasiswa dan dosen pembimbing bersama dengan rakyat miskin, dan keluarga yang mampu saling menolong. CSR membantu pengurus Posdaya pada tingkat desa. Mereka perlu didampingi agar isian programnya bisa dikembangkan. Untuk itu, setiap mahasiswa dari berbagai fakultas untuk saling sharing.
Prof Haryono yang juga mantan Menko Kesra itu menjelaskan, bahwa MDGs mempunyai delapan sasaran, yang pertama pengentasan kemiskinan. Para mahasiswa diajak membuat peta keluarga, siapa yang miskin dan siapa yang tidak miskin. Kelurga yang muda yang miskin segera didampingi untuk belajar bersama-sama. Kita mencoba membuat kredit yang kira-kira orang tidak harus memenuhi syarat mempunyai bisnis.
Untuk itu, Yayasan Damandiri saat ini sedang mengembangkan tiga skim. Skim pertama dengan kredit Rp 2 juta tanpa agunan disertai kegiatan tanggung jawab renteng. Dengan kredit Rp 2 juta orang-orang miskin ditarik oleh mahasiswa dan kelompoknya untuk belajar menabung, belajar bertanggung jawab renteng, dan belajar menjadi pengusaha bersama-sama dengan pengusaha yang ada.
Ditambahkan, saat ini ada 45 bank yang ikut bergabung dalam program Posdaya. Kini telah terbentuk sekitar 10.000 Posdaya di seluruh Indonesia, setiap Posdaya membentuk kelomok-kelompok kecil yang saling percaya, dan mengadakan usaha bersama. Kalau lulus dengan pinjaman Rp 2 juta, maka pinjaman akan naik menjadi pinjaman di bawah Rp 10 juta, setelah lulus naik lagi menjadi di atas Rp 10 juta, dan seterusnya. Diharapkan, para pengusaha untuk terjun pada target kedua MDGs, yaitu budaya sekolah. Para pengusaha diundang masuk desa membuat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan kursus-kursus paket A, B, dan paket C.
Target ketiga, kesetaraan gender dan di desa segera dibentuk Pramuka berbasis desa, karena anak putus sekolah tidak bisa lagi menjadi Pramuka. Target keempat, kematian anak masih tinggi, maka perlu digalakikan kembali KB, imuniasi, pemeriksaan dini, dan sebagainya. Target kelima, program KB yang dulu sangat gencar dan kini mulai mengendor, maka perlu dihidupkan kembali Posyandu-Posyandu yang ada di desa.
Target keenam, memberantasan penyakit HIV/AIDS. Anak muda diberi kesibukan dengan melakukan kegiatan olahraga, kesenian, kebudayaan, dan sebagainya. Target ketujuh, lingkungan yang efektif dengan membuat perbaikan gizi. Gizi harus diperbaiki tiap hari bukan sebulan sekali. Oleh karena itu, sekarang sedang dilakukan gerakan membuat kebun bergizi di halaman rumah. Target kedelapan, penghargaan bagi yang bekerja keras dan cerdas.
(sy)