Saturday, May 19, 2012

(Jakarta, MADINA): Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pindang Ikan Indonesia (Ketum APPikanDO) EF Hamidy meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar segera  membuka  kran impor ikan salem bahan baku ikan pindang dari Negara Cina dan Taiwan.

Impor ikan salem dirasa penting, karena saat ini 6.000 nelayan yang tergabung dalam  APPikanDO kesulitan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan ikan pindang yang tersebar di beberapa provinsi di tanah air.

“Laporan dari beberapa anggota  APPikanDO di daerah menyebutkan, stok bahan baku ikan salem sudah berkurang dibanding tahun 2011 kemarin. Hal ini menyebabkan  nelayan APPikanDO banyak yang menganggur, beralih profesi menjadi loper Koran, dan kuli bangunan,” tegas Ketum APPikanDO EF Hamidy kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/1).

Menurut data, dari total kebutuhan bahan baku ikan untuk pindang nasional yang mencapai 157,838 ton per bulan, hanya mampu dipasok dari hasil penangkapan nelayan Indonesia sebesar 76,434 ton (48,43%) per bulan. Berarti, nelayan masih mengalami kekurangan bahan untuk pembuatan ikan pindang secara nasional sebesar 81,405 ton (51,57%) per bulan.

“Di akhir bulan ini (awal Februari 2012), saat sudah musim paceklik ikan untuk memenuhi kekurangan tersebut kebijakan impor adalah solusi sementara. Dengan adanya kebijakan impor ikan di masa-masa tersebut, selain membantu kelangsungan usaha pengrajin ikan pindang, impor ikan ini juga ikut menyelamatkan ratusan ribu tenaga kerja yang menggeluti usaha ikan pindang ini,” katanya.

Penyebab lain, lesunya usaha ikan pindang di tanah air, adalah berkurangnya ketertarikan masyarakat Indonesia  untuk mengonsumsi ikan pindang. Di samping itu, salah satu penyebab berkurangnya stok ikan dan mahalnya bahan baku karena para nelayan dalam beberapa minggu ini tidak bisa melaut akibat cuaca yang tidak memungkinkan (masuk ke musim angin barat).

“Anggota APPikanDO mengharapkan produksi pemindangan  ikan tidak boleh berhenti. Apakah pemerintah mau impor ikan, silahkan. Kita minta impor ikan salem ini hanya dalam jangka waktu tertentu saja saat panen ikan di dalam negeri sedang langka. Sementara kalau sedang  banyak panennya, maka impor ikan tidak dibutuhkan lagi,” tandasnya.

Langkanya pasokan bahan baku salem berdampak kepada kenaikan harga bahan baku untuk pemindangan ikan. Untuk tahun ini, kenaikan harga ikan salem mencapai Rp12.000 per kilogram (Kg), lebih mahal apabila dibandingkan dengan tahun 2011 kemarin, yakni kisaran Rp 7000-8000 per kg. Kenaikan harga bahan baku ini mencapai 30%. Sementara untuk harga jual ikan pindang ke konsumen per kg nya juga mengalami kenaikan dari tahun 2011. Pada 2011 harga jual ikan salem hanya Rp 10.000 per kg, namun tahun ini harganya naik mencapai 40% atau pada kisaran  Rp 17.000-20.000. 

Di tempat yang sama, penasehat APPikanDO Yusuf Lamli mengatakan, dengan adanya impor ikan salem dari Negara Taiwan dan Cina ke dalam negeri membuat nelayan APPikanDO bisa kembali bekerja sebagai pemindang ikan.

“APPikanDO memberi solusi agar impor ikan salem dari Taiwan dan Cina bisa memenuhi kebutuhan nelayan pindang,  yaitu 100.000 ton ikan salem yang dimulai pada Februari 2012,” tandasnya. (mur)